Cerita Bupati Bonebol Gerilya Mengajak Anak Putus Sekolah Kembali ke Sekolah

Cerita Bupati Bonebol Gerilya Mengajak Anak Putus Sekolah Kembali ke Sekolah

Foto untuk : Cerita Bupati Bonebol Gerilya Mengajak Anak Putus Sekolah Kembali ke Sekolah

BONEBOL - Kunjungan kerja Bupati Bone Bolango (Bonebol) Hamim Pou di kecamatan tidak melulu hanya seremonial penyampaian program dan evaluasi kegiatan. 
Orang nomor satu di Kabupaten Bonebol ini, kerap keluar dari jadwal yang telah disusun apik oleh Keprotokoleran. Seperti halnya, Rabu, 19/2/2020 contohnya. Meski hanya tiga agenda resmi yang dijadwalkan dalam kegiatan rapat koordinasi dan evaluasi pelaksanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat di Kecamatan Bone dan Bone Raya. 
Bupati Hamim Pou tidak menampik ajakan kepala desa untuk memantau pembangunan hunian pantas di salah satu desa. Hasilnya, Bupati tidak hanya memantau hunian pantas yang telah rampung. Namun Bupati pun bergerilya mengajak anak-anak untuk kembali ke sekolah.
Diceritakan Bupati, sebelum kesini (lokasi agenda peresmian ruang kelas baru di Kecamatan Bone Raya) saya singgah di Desa Tumbuh Mekar, Kecamatan Bone. Melihat rumah yang saya bantu, Hunian Pantas di pinggir pantai, ada dua unit dan bagus sekali. Tapi di sebelahnya ada gubuk, terbuat dari pitate.
Saya tanya ke ibu atau pemilik rumah itu, anak ibu berapa? Kata Bupati. Empat, kata Ibu itu, semuanya perempuan, anaknya yang pertama sudah menikah dan saat ini, sudah kerja di kota, anak yang kedua SMP kelas 2 tapi sudah berhenti, kemudian yang dua orang satu kelas 2 SD dan 1 TK.
Bupati pun bertanya anak yang kelas 2 SMP itu dimana? Itu ada di pantai pak, lagi mandi,"jawab ibu itu. Naluri Bupati pun berjalan, Bupati beranjak menuju pantai, yang lokasinya tidak jauh dari rumahnya. 
Bupati pun bertemu dengan anak perempuan ibu itu. Saya tanya kenapa tidak sekolah? Dia diam. Bupati pun mulai membujuk anak perempuan itu kembali ke sekolah. Tadi saya sudah bujuk, besok dia bersedia, dia mau kembali ke sekolah. Jadi besok tugas Kepsek untuk menjemput dia dengan sangat baik, antar dia ke sekolah. Karena itu anak pintar. Mungkin ada sesuatu yang tidak cocok disitu, sehingga dia tidak mau sekolah.
“Kasihan dia, umur 15 tahun masih cewek, cantik lagi, masa tidak mau sekolah. Jadi beban keluarga itu, masa depan. Itu harus dimasukkan kembali di sekolah mulai besok,"ujar Bupati.
Tidak sampai disitu Bupati pun bergerilya. Bupati berpindah di rumah sebelahnya. Saya pindah di rumah sebelah yang rumah yang belum diperbaiki. Suaminya pemanjat kelapa, tapi nelayan juga, anaknya itu Sapitri Laaji, dia berhenti kelas 1 SD. Saya tanya mau sekolah, anaknya mau. Padahal orang tuanya bilang sudah tidak mau sekolah. 
"Bayangkan anak kelas 4 SD usia yang harusnya ada di bangku sekolah lalu tidak di sekolah, di Desa Tumbuh Mekar baru dua rumah saya datangi sudah ada 2 orang yang tidak sekolah. Bagaimana dengan dusun-dusun dan desa-desa yang lain.
"Saya perintahkan, cari anak-anak yang harus ada di sekolah tapi tidak ada di sekolah, untuk dimasukan ke sekolah. Saya mau besok dia (Sapitri) itu sudah harus masuk ke sekolah. Jemput dia kembali ke sekolah. Saya tidak mau mendengar dia tidak sekolah. Saya ganti kepala sekolahnya. Penting untuk kita itu,"tegas Hamim.
Bupati menyampaikan itu dua hal yang perlu saya sampaikan betapa problem pendidikan ini, maka jauh dari pusat pemerintahan, makin banyak anak-anak yang tidak sekolah. Padahal pemerintah menyiapkan berbagai fasilitas untuk anak-anak bisa sekolah tersebut. (Afik/AKP)
 

Sambutan