PSBB, Suami-Isteri Berboncengan di Motor Tidak Masalah

PSBB, Suami-Isteri Berboncengan di Motor Tidak Masalah

BONEBOL – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bone Bolango Ishak Ntoma mengungkapkan bahwa suami-isteri ketika berboncengan di kendaraan sepeda motor saat keluar rumah, baik ke tempat kerja maupun pulang dari tempat kerja. Bahkan saat ke luar rumah untuk kepentingan mendesak atau urgen di saat pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak apa-apa dan tidak masalah.
Demikian juga jika keluar rumah menggunakan kendaraan mobil pribadi. Dalam aturan PSBB itu dilarang duduk berdampingan dengan sopir atau duduk di kursi depan. Tapi kalau yang mengemudikan mobil atau sopirnya adalah suaminya dan isterinya duduk di kursi depan di samping sopir itu juga tidak masalah.
Masa isterinya harus dipindahkan ke kursi belakang? Itu harus dilihat oleh para petugas. Apakah yang duduk di kursi depan di samping sopir adalah keluarga atau isteri dari sopir tersebut. Kalau itu isterinya, maka biarkan saja dia duduk di samping sopir atau suaminya. Jangan dipindahkan ke kursi belakang, karena akan menimbulkan keributan. 
Apalagi di dalam mobil itu ada lima orang, yakni suami-isteri dan 3 anaknya. Sementara dalam aturan PSBB dalam satu mobil hanya dibolehkan 3 orang penumpang. Apa yang 2 penumpang lainnya atau 2 anaknya harus diturunkan? Itu tidak mungkin.”Kita jangan kakuh dalam menerapkan aturan,”ujar Sekda Ishak Ntoma saat diwawancarai, Senin (4/5/2020).
Namun demikian, Sekda mengingatkan kalau pun suami-isteri dalam keadaan terpaksa berboncengan di motor, itu tidak apa-apa. Hanya saja protapnya harus pakai masker, cuci tangan pakai air dan sabun ketika sampai di rumah.
“Baik yang naik mobil pribadi atau naik motor sampai di rumah sebelum masuk kamar atau sebelum beraktivitas di dalam rumah. Segeralah ke kamar mandi, cuci tangan pakai air dan sabun, cuci kaki, cuci pakaian yang dipakai atau langsung mandi sekaligus, itu lebih bagus,”tukas Ishak Ntoma.
Kemudian bagi suami-isteri yang terpaksa naik mobil bersama atau berboncengan di motor karena urusan mendesak dan sangat penting pada saat PSBB. Cukup menunjukan dokumen atau identitas diri kepada petugas yang memeriksa. 
“Bahkan kalau tidak merepotkan, selain bawa KTP, juga bawa foto copy buku nikah atau foto copy KK-nya kemudian perlihatkan kepada para petugas bahwa anda pasangan suami-isteri atau satu keluarga dalam rumah, yakni suami-isteri maupun anak,”jelas Sekda Ishak Ntoma.
Paling tidak, di bulan puasa kita tidak boleh berbohong. Kalau kita berbohong kepada petugas, maka gugurlah pahala puasa. “Jadi dengan hikmah puasa, mudah-mudahan masyarakat tidak akan berbohong untuk menyatakan kejujurannya supaya kita bisa mentaati seluruh aturan yang dituangkan di dalam PSBB ini,”tandas Ishak Ntoma.
Sekda juga mengingatkan terhadap pemberlakukan PSBB ini, ia berharap kepada para petugas di perbatasan, baik itu dari unsur TNI, Polisi, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Pemerintah Kecamatan, dan petugas kesehatan untuk tetap memeriksa setiap penumpang kendaraan bermotor dengan memakai sistem protokol Covid-19.
“Ketika memeriksa penumpang di mobil, karena dalam aturan PSBB dilarang duduk berdampingan dengan sopir. Pastikan yang duduk di samping sopir itu adalah isteri atau anaknya. Begitu juga yang berboncengan di motor. Apakah suami-isteri atau bukan. Mereka harus menunjukan dokumen identitas diri kepada para petugas,”pungkas Sekda Ishak Ntoma. (AKP)

Sambutan