Tingginya Anak Balita Stunting Jadi Perhatian Utama

Tingginya Anak Balita Stunting Jadi Perhatian Utama

Foto untuk : Tingginya Anak Balita Stunting Jadi Perhatian Utama

BONEBOL - Masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak Balita pendek (stunting) dari 10 orang anak di negara kita. Sekitar 3-4 orang anak Balita mengalami stunting, yang disebabkan oleh rendahnya asupan gizi berulang yang didasari dari penyakit lingkungan yang tidak sehat.
Demikian diutarakan Sekda Bone Bolango Ishak Ntoma saat memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi pertemuan koordinasi konvergensi lintas sektor Kabupaten Bone Bolango tahun 2020, di restaurant Miranti Indah di Kecamatan Tilongkabila, Kamis (26/6/2020).
Sekda mengatakan anak Balita stunting selain mengalami gangguan pertumbuhan umumnya memiliki kecerdasan yang lebih rendah dari anak Balita normal. Selain itu, anak Balita stunting ketika dewasa lebih mudah menderita penyakit tidak menular dan produktivitas kerja yang lebih rendah. Dengan demikian menanggulangi stunting pada anak Balita berarti meningkatkan sumber daya manusia.
Oleh karena itu, ungkap Ishak Ntoma, status gizi dan kesehatan ibu dan anak merupakan penentu kualitas SDM. Status gizi dan kesehatan ibu saat hamil dan saat menyusui sampai dengan Balita 2 tahun merupakan periode yang sangat kritis atau yang kita kenal dengan 1000 hari pertama kehidupan (golden periode).
“Periode seribu hari pertama kehidupan ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi,”ungkap Sekda.
Sekda menguraikan, dampak buruh yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan, dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah terjadinya stunting.
Menurutnya, stunting atau kejadian anak bertubuh pendek adalah salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa saat ini. Stunting merupakan akumulasi permasalahan kekurangan gizi yang berlangsung secara kronik.
Permasalahan gizi yang terakumulasi dalam wujud stunting adalah muara dari berbagai macam persoalan sosial seperti pola asuh, pendidikan, lingkungan yang tidak sehat, ekonomi, kemiskinan, budaya, bahkan politik dan keamanan sekalipun yang terjadi di masyarakat.
Oleh karena itu, kegiatan konvergensi ini bertujuan untuk menyusun rencana kegiatan dalam meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi dan penyusunan prioritas kegiatan dengan mempertimbangkan antaranya, tahapan pelaksanaan kegiatan ketersediaan pendanaan dalam tahun berjalan, dan satu tahun anggaran berikutnya. Dimana penanggungjawabnya adalah OPD teknis terkait dan terkoordinir oleh Bappeda.
Selain itu, semua OPD teknis harus berkonvergensi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan bersama harus fokus pada 27 desa lokus yang telah diperoleh dari hasil analisis situasi (aksi satu) yang telah dilakukan sebelumnya.
Untuk itu, lanjut Ishak Ntoma, dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan gizi dilakukan intervensi spesifik dengan pendekatan continuum of care yang dimulai sejak masa pra hamil, hamil, bersalin dan nifas, bayi, balita, hingga remaja (pria dan wanita usia subur).
Mencermati kontribusi intervensi sensitif yang terbukti berperan besar terhadap penanggulangan masalah gizi. Sekda pun mengimbau dalam forum itu agar supaya perbaikan gizi disektor kesehatan selalu didukung oleh sektor non kesehatan terkait isu yang belum terselesaikan serta isu strategis yang baru muncul ke permukaan saat ini.
Termasuk upaya pencegahan stunting untuk generasi mendatang menuju Indonesia sehat yang harus dituangkan di dalam perencanaan seluruh OPD teknis terkait terutama 15 OPD teknis termasuk dalam tim koordinasi pelaksanaan intervensi pencegahan stunting tingkat Kabupaten Bone Bolango.
“Saya berharap pada pertemuan aksi ke dua ini seluruh perencanaan dilakukan oleh semua OPD teknis terkait dapat bersinergi dan berkonvergensi dalam penanganan stunting di Kabupaten Bone Bolango. Sehingga berdampak pada akselerasi penurunan stunting,”ujar Sekda.
Selain itu, Sekda berharap pertemuan ini dapat menghasilkan perencanaan kegiatan yang matang untuk kita bawa dalam kegiatan pra rembuk dan rembuk stunting yang akan dilaksanakan tahap selanjutnya (aksi 3). (IKP-Hms/AKP)

Sambutan